Kamis, 17 April 2014

Data Diri



Nama saya Deasy Paramitha. Saya lahir di Jakarta, 11 Desember 1994. Saya anak Kedua dari Dua bersaudara. Kakak saya Laki-Laki berusia 23 Tahun. Saya mempunyai ayah dan Ibu yang Allhamdulilah sampai saat ini masih diberi umur panjang dan semoga diberi kesehatan selalu dari Allah SWT. Ayah saya bernama Leslie Wahrizal yang lahir di Jakarta , Ibu saya bernama Lestari Eko yang lahir di Kebumen,Jawa Tengah.
                Saya satu-satunya anak perempuan yang Ayah dan Ibu saya miliki. Maka dari itu penjagaan terhadap pergaulanpun lebih ketat dibandingkan kakak laki-laki saya. Dahulu, pertama saya masuk Sekolah Dasar kurang lebih saat usia saya 4,5 tahun. Dimana sekolah Negeri belom bisa menerima saya karena masih terlalu muda dibandingkan anak-anak yang daftar pada umumnya. 6 tahun saya bersekolah di SDS Jaya Suti Abadi dan disana saya belum menemukan dengan pasti apa kekurangan dan kelebihan diri saya tapi secara samar-samar saya bisa tahu apa yang saya sukai dan saya tidak sukai. Jika ditanya apa cita-cita saya saya selalu menjawab saya ingin menjadi Polwan (Polisi Wanita). Selain menurut saya Polwan itu wanita yang gagah, saya juga ingin tampil berbeda dari keluarga besar saya yang memang tidak ada yang berlatar belakang Militer. Rata-rata keluarga saya bekerja sebagai Notaris, Pengacara, Pengusaha, Karyawan Swasta, Guru, dan Ibu Rumah Tangga.
                Beberapa tahun berlalu, tepatnya jatuh pada tahun 2012 saya lulus dari SMAN 1 Tambun-Selatan. Sebelum dipastikan lulus dari SMA saya sudah berhasil mendapatkan PMDK dari Diploma Institut Pertanian Bogor jurusan Ekowisata. Karena basic saya dari IPS  sebelumnya saya fikir Ekowisata adalah Ekonomi Pariwasata. Karena saya salah menduga, akhirnya saya coba mengambil PMDK tersebut. Kurang lebih 2 semester saya belajar di IPB. Yang ternyata Ekowisata adalah Kehutanan. Karena fisik saya yang memang mudah sakit akhirnya saya memutuskan Resign dari IPB dan pada tahun 2013 saya mendaftar di Universitas Gunadarma jurusan Akuntansi. Dilihat dari segi pemilihan kampus memang agak sedikit menalami penurunan tetapi dari jurusan saya fikir sya tidak pernah salah telah mengambil Akuntansi.
                Sampai sekarang cita-cita saya menjadi Polwan semakin jauh dari angan-angan. Karena saya lihat kekurangan saya terdapat pada fisik yang mudah sakit, mata saya yang minusnya sudah tinggi sehingga tidak memungkinkan ikut test Polwan. Dan mental yang gampang down jika ada kritikan yang kurang bagus yang datang dari orang lain.
                Kelebihan yang saya fikir melekat pada diri saya adalah konsistensi dan pengambilan keputusan yang tegas. Jika menurut saya sesuatu yang saya dapat itu hanya tidak menyeimbangkan kondisi saya lebih baik mencoba hal yang lain.  Selain itu saya adalah pribadi yang jujur dalam hal apapun. Disiplin terhadap waktu.
                Yaaa itu saja yang dapat saya jabarkan tentang saya. Maaf jika ada kesalahan pada perkataan.

Terima Kasih

Bisnis Retail


I.                   PENDAHULUAN

Pengertian Ritel

Menurut Christina Whidya Utami (2006), ritel berasal dari bahasa Prancis (ritellier) yang berarti memotong atau memecah sesuatu. Usaha ritel atau eceran dapat dipahami sebagai semua kegiatan yang terlibat dalam penjualan barang atau jasa secara langsung kepada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi.Kegiatan yang dilakukan dalam bisnis ritel adalah menjual berbagai produk, jasa, atau keduanya kepada konsumen untuk keperluan konsumsi pribadi maupun bersama. Dengan demikian ritel adalah kegiatan terakhir dalam jalur distribusi yang menghubungkan produsen dengan konsumen

Pasar modern (ritel) yang berkembang sekarang ini memberikan banyak alternatif pada konsumen sebagai tempat untuk berbelanja. Alternatif yang begitu banyak menyebabkan pasar modern (ritel) harus memperhatikan berbagai faktor, salah satu diantaranya adalah faktor persepsi konsumen yang memengaruhi perilaku konsumen untuk mengambil keputusan memilih tempat berbelanja yang menurut mereka yang terbaik, dan keputusan yang dibuat oleh konsumen akan menentukan kesuksesan sebuah pasar modern (ritel). Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh dari lokasi, kelengkapan produk, kualitas produk, harga, pelayanan, kenyamanan berbelanja dan promosi secara bersama maupun secara parsial terhadap minat konsumen untuk berbelanja dan untuk menganalisis variabel manakah yang paling dominan dalam memengaruhi minat konsumen untuk berbelanja.

Dalam memilih toko (ritel), konsumen memiliki kriteria evaluasi diantaranya adalah faktor lokasi, kelengkapan produk, kualitas produk, harga, pelayanan, kenyamanan berbelanja dan promosi. Hal tersebut menjadikan faktor yang sangat penting dan harus diperhatikan produsen karena akan menjadi bahan pertimbangan bagi konsumen untuk memilih toko mana yang akan didatangi konsumen.
Dalam memilih toko (ritel), konsumen memiliki kriteria evaluasi diantaranya adalah faktor lokasi, kelengkapan produk, kualitas produk, harga, pelayanan, kenyamanan berbelanja dan promosi. Hal tersebut menjadikan faktor yang sangat penting dan harus diperhatikan produsen karena akan menjadi bahan pertimbangan bagi konsumen untuk memilih toko mana yang akan didatangi konsumen

II.               Latar Belakang



Giant hipermarket adalah anak perusahaan dari Hero Group yang merupakan salah satu supermarket terlama di Indonesia. Hero supermarket adalah pelopor untuk konsep berbelanja kebutuhan sehari-hari, produk dan bahan makanan segar di lingkungan yang lebih bersih, sehat dan moderen.
Demi kepuasan semua jenis pelanggannya, Hero sebagai multi format retailer membuka Hero supermarket, Giant supermarket, Giant hipermarket, Starmart, dan Guardian. Dengan mengembangkan karyawan dan cara kerja yang lebih efektif, efisien, serta kerjasama yang kuat dari setiap jenis tokonya, Hero Group berharap dapat memajukan dan meningkatkan kesejahteraan bersama, serta memberikan kepuasan kepada para pelanggannya.
Giant hipermarket pertama kali didirikan pada tahun 1997 di Malaysia, disusul kemudian di Singapura.Di Indonesia, Giant baru berdiri pada Juni 2002 di Villa Melati (Serpong), November 2002 di Maspion Square (Surabaya), April 2003 di Cimanggis (Bogor), dan pada Mei 2003 di Bekasi.
Giant Indonesia juga berkomitmen untuk menjadi retailer yang lebih ramah lingkungan dengan menggunakan lampu efisien Philips LED.Lampu ini menggunakan tenaga hemat listrik yang penghematan ini dapat digunakan untuk menekan biaya operasional dan harga barang yang lebih murah.Giant berharap langkah ini dapat ditiru oleh pengusaha pasar swalayan lainnya untuk melakukan penghematan tenaga listrik.
Giant Indonesia juga membuka pusat belanja keluarga terbesar di kawasan industri Jababeka. Pada tahun 2012, perusahaan Hero yang bernaung dibawah Dairy Farm International telah mengoperasikan 43 Giant hipermarket, 130 Hero dan Giant supermarket.
 




1.     Pengaruh bisnis retail terhadap pendapatan daerah dan pendapatan nasional.

Bisnis retail dapat dikatakan mempengaruhi pendapatan daerah dan pendapatan nasional karena pada awalnya bisnis retail menjadi bisnis yang mempunyai persaingan ketat.

Berikut data pendapatan Minimarket,Supermarket dan Hypermarket :


Minimarket :

Produk dijual
Kebutuhan rumahtangga, makanan dan termasuk kebutuhan harian.
Jumlah Produk
< 5000 item
Potensi Penjualan
Maks. 200 juta









Supermarket :

Produk Dijual
kebutuhan rumahtangga, makanan dan termasuk kebutuhan harian.
Jumlah Produk
5000-25000 item
Potensi penjualan
200 juta – 10 Milyar




Hypermart :

Produk Dijual
kebutuhan rumahtangga, makanan dan termasuk kebutuhan harian, textile, fashion, furniture, dll.


Jumlah Produk
>25000 item
Potensi penjualan
> 10 milliar

Oleh karena itu, bisnis retail sangatlah berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional. Karena penghasilan dari suatu bisnis retail, terlebih bisnis retail modern dapat membantu pendapatan jumlah per-kapita pada suatu daerah tertentu. Pendapatan per kapita adalah besarnya pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara.Pendapatan per kapita didapatkan dari hasil pembagian pendapatan nasional suatu negara dengan jumlah penduduk negara tersebut.Pendapatan per kapita juga merefleksikan PDB per kapita.Pendapatan per kapita sering digunakan sebagai tolok ukur kemakmuran dan tingkat pembangunan sebuah negara; semakin besar pendapatan per kapitanya, semakin makmur negara tersebut.
Meningkatnya jumlah pendapatan perkapita itu dapat membantu suatu daerah untuk membangun kualitas SDM yang terdapat di sana. Serta beberapa persen pendapatan bisnis retail tersebut dapat disalurkan ke pendapatan nasional.
Pada contohnya Giant hypermart didaerah Madiun,Jawa Timur. Di jawa timur, lebih dari 16% hasil dari penjualan pada bisnis retail disumbangkan untuk pendapatan nasional. Padahal Jwa Timur bukan kota besar dan jumlah bisnis retail di sana tidaklah begitu banyak. Bayangkan berapa banyak hasil yang dihasilkan oleh kota besar seperti Jakarta untuk disumbangkan ke dalam pendapatan nasional. Bahkan sekarang banyak bisnis retail asing yang menanam saham di Indonesia. Maraknya bisnis retail ini di Indonesia dapat membantu pertumbuhan ekonomi di daerah maupun nasional.
Dalam periode enam tahun terakhir, dari tahun 2007–2012, jumlah gerai ritel modern di Indonesia mengalami pertumbuhan rata-rata 17,57% per tahun. Pada tahun 2007, jumlah usaha ritel di Indonesia masih sebanyak 10.365 gerai, kemudian pada tahun 2011 mencapai 18.152 gerai tersebar di hampir seluruh kota
di Indonesia. Pertumbuhan jumlah gerai tersebut tentu saja diikuti dengan pertumbuhan penjualan.
Untuk penyebaran toko, paling banyak di Pulau Jawa dengan 57 persen, dan Sumatera dengan 22 persen, sisanya 21 persen ada di pulau lain. Bisnis ritel lebih cepat tumbuh di pinggiran kota, karena banyaknya pemukiman di lokasi tersebut. Daerah inilah yang menjadi target dari ritel modern jenis minimarket.
Menurut Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo), pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia antara 10%–15% per tahun.Penjualan ritel pada tahun 2006 masih sebesar Rp49 triliun, dan melesat hingga mencapai Rp120 triliun pada tahun 2011. Sedangkan pada tahun 2012, pertumbuhan ritel diperkirakan masih sama, yaitu 10%–15%, atau mencapai Rp138 triliun. Jumlah pendapatan terbesar merupakan kontribusi dari hipermarket, kemudian disusul oleh minimarket dan supermarket

Jadi, pengaruh bisnis retail terhadap pendapatan daerah dan pendapatan nasional sangatlah besar.

II. Pengaruh bisnis Retail terhadap perkembangan konsumen.
Salah satu hal yang berpengaruh terhadap perkembangan komsumen ialah bagaimana mereka memutuskan untuk mulai berbelanja diempat tersebut. Berikut faktor-faktornya :

·       Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Belanja

Keputusan belanja dipengaruhi oleh kepercayaan, sikap dan nilai-nilai pelanggan, serta berbagai faktor dalam lingkungan sosial pelanggan (Christina Whidya Utami, 2006). Proses keputusan memilih barang atau jasa dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan faktor pribadi di dalam diri seseorang.

                        - Faktor External
                         
Faktor external yang memengaruhi keputusan belanja antara lain:
·       Keluarga
Banyak keputusan belanja dibuat untuk produk yang dikonsumsi oleh keluarga secara keseluruhan.Ritel harus memahami bagaimana suatu keluarga membuat keputusan belanja dan bagaimana anggota keluarga lainnya memengaruhi keputusan ini.
·       Kelompok yang dijadikan acuan
Kelompok yang dijadikan acuan satu atau lebih orang-orang yang digunakan seseorang sebagai dasar perbandingan untuk kepercayaan, perasaan, dan perilaku.
·       Budaya
Budaya adalah faktor yang mendasar dalam pembentukan norma-norma yang dimiliki seseorang yang kemudian membentuk atau mendorong keinginan dan perilakunya menjadi seorang konsumen.Budaya dalam hal ini meliputi hal-hal yang dapat dipelajari dari keluarga, tetangga, teman, guru maupun tokoh masyarakat.

                        - Faktor Internal
                         
Faktor pribadi atau internal di dalam diri seseorang yang memengaruhi keputusan belanja antara lain:
·       Aspek pribadi
Seorang pelanggan akan mempunyai perbedaan dengan pelanggan yang lain karena faktor-faktor pribadi yang berbeda misalnya, tahapan usia, kondisi keuangan, gaya hidup, kepribadian, dan konsep diri.
·       Aspek psikologis
Faktor psikologi yang memengaruhi seseorang dalam tindakan membeli suatu barang atau jasa didasarkan pada motivasi, persepsi, kepercayaan, dan perilaku serta proses belajar yang dilalui konsumen.

Bisnis Ritel secara umum adalah kegiatan usaha menjual aneka barang atau jasa untuk konsumsi langsung atau tidak langsung. Dalam matarantai perdagangan bisnis ritel merupakan bagian terakhir dari proses distribusi suatu barang atau jasa dan bersentuhan langsung dengan konsumen.
Bisnis Ritel di Indonesia sebenarnya terbagi menjadi dua, yaitu Ritel Tradisional dan Ritel Modern.Namun seiring berjalannya waktu, ritel tradisional banyak ditinggalkan oleh para konsumen.Sehingga peningkatan bisnis ritel modern di Indonesia melonjak tajam.
Banyak perbedaan yang dihadirkan bisnis rital tradisional maupun bisnis ritail modern. Sehingga kini di kabupaten atau kota bahkan desa di Indonesia, “bisnis retail” terlebih bisnis ritel modern mulai banyak dilirik kalangan pengusaha, sebab memiliki pengaruh positif terhadap jumlah lapangan pekerjaan dan keuntungannya yang menjanjikan.
Dalam 6 tahun terakhir, perkembangan ketiga format modern market di atas sangatlah tinggi.konsepnya yang modern, adanya sentuhan teknologi dan mampu memenuhi perkembangan gaya hidup konsumen telah memberikan nilai lebih dibandingkan dengan market tradisional. Selain itu atmosfer belanja yang lebih bersih dan nyaman, semakin menarik konsumen dan dapat menciptakan budaya baru dalam berbelanja.Munculnya konsep ritel baru seperti hipermarket, supermarket, dan minimarket, yang termasuk ke dalam jenis ritel modern (pasar modern) merupakan peluang pasar baru yang dinilai cukup potensial oleh para pebisnis ritel, namun dilain sisi dapat mengancam keberadaan pasar tradisional yang belum dapat bersaing dengan pasar modern terutama dalam hal manajemen usaha dan permodalan.















-         WWW.GOOGLE.COM
-         WWW.WIKIPEDIA.ORG
-         WWW.GIANT.COM.MY