I.
PENDAHULUAN
Pengertian Ritel
Menurut Christina Whidya Utami (2006),
ritel berasal dari bahasa Prancis (ritellier) yang berarti memotong atau
memecah sesuatu. Usaha ritel atau eceran dapat dipahami sebagai semua kegiatan
yang terlibat dalam penjualan barang atau jasa secara langsung kepada konsumen
akhir untuk penggunaan pribadi.Kegiatan yang dilakukan dalam bisnis ritel
adalah menjual berbagai produk, jasa, atau keduanya kepada konsumen untuk
keperluan konsumsi pribadi maupun bersama. Dengan demikian ritel adalah
kegiatan terakhir dalam jalur distribusi yang menghubungkan produsen dengan
konsumen
Pasar modern (ritel) yang berkembang
sekarang ini memberikan banyak alternatif pada konsumen sebagai tempat untuk
berbelanja. Alternatif yang begitu banyak menyebabkan pasar modern (ritel)
harus memperhatikan berbagai faktor, salah satu diantaranya adalah faktor
persepsi konsumen yang memengaruhi perilaku konsumen untuk mengambil keputusan
memilih tempat berbelanja yang menurut mereka yang terbaik, dan keputusan yang
dibuat oleh konsumen akan menentukan kesuksesan sebuah pasar modern (ritel).
Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh dari lokasi, kelengkapan
produk, kualitas produk, harga, pelayanan, kenyamanan berbelanja dan promosi
secara bersama maupun secara parsial terhadap minat konsumen untuk berbelanja
dan untuk menganalisis variabel manakah yang paling dominan dalam memengaruhi
minat konsumen untuk berbelanja.
Dalam
memilih toko (ritel), konsumen memiliki kriteria evaluasi diantaranya adalah
faktor lokasi, kelengkapan produk, kualitas produk, harga, pelayanan,
kenyamanan berbelanja dan promosi. Hal tersebut menjadikan faktor yang sangat
penting dan harus diperhatikan produsen karena akan menjadi bahan pertimbangan
bagi konsumen untuk memilih toko mana yang akan didatangi konsumen.
Dalam
memilih toko (ritel), konsumen memiliki kriteria evaluasi diantaranya adalah
faktor lokasi, kelengkapan produk, kualitas produk, harga, pelayanan,
kenyamanan berbelanja dan promosi. Hal tersebut menjadikan faktor yang sangat
penting dan harus diperhatikan produsen karena akan menjadi bahan pertimbangan
bagi konsumen untuk memilih toko mana yang akan didatangi konsumen
II.
Latar Belakang
Giant hipermarket adalah anak perusahaan dari
Hero Group yang merupakan salah satu supermarket terlama di Indonesia. Hero
supermarket adalah pelopor untuk konsep berbelanja kebutuhan sehari-hari,
produk dan bahan makanan segar di lingkungan yang lebih bersih, sehat dan
moderen.
Demi kepuasan semua jenis pelanggannya, Hero
sebagai multi format retailer membuka Hero supermarket, Giant supermarket,
Giant hipermarket, Starmart, dan Guardian. Dengan mengembangkan karyawan dan
cara kerja yang lebih efektif, efisien, serta kerjasama yang kuat dari setiap
jenis tokonya, Hero Group berharap dapat memajukan dan meningkatkan
kesejahteraan bersama, serta memberikan kepuasan kepada para pelanggannya.
Giant hipermarket
pertama kali didirikan pada tahun 1997 di Malaysia, disusul kemudian di
Singapura.Di Indonesia, Giant baru berdiri pada Juni 2002 di Villa Melati
(Serpong), November 2002 di Maspion Square (Surabaya), April 2003 di Cimanggis
(Bogor), dan pada Mei 2003 di Bekasi.
Giant Indonesia juga berkomitmen untuk menjadi
retailer yang lebih ramah lingkungan dengan menggunakan lampu efisien Philips LED.Lampu ini menggunakan tenaga hemat listrik
yang penghematan ini dapat digunakan untuk menekan biaya operasional dan harga
barang yang lebih murah.Giant berharap langkah ini dapat ditiru oleh pengusaha
pasar swalayan lainnya untuk melakukan penghematan tenaga listrik.
Giant Indonesia juga
membuka pusat belanja keluarga terbesar di kawasan industri Jababeka. Pada
tahun 2012, perusahaan Hero yang bernaung dibawah Dairy Farm
International telah mengoperasikan 43 Giant hipermarket, 130 Hero dan Giant
supermarket.
1.
Pengaruh bisnis retail terhadap
pendapatan daerah dan pendapatan nasional.
Bisnis
retail dapat dikatakan mempengaruhi pendapatan daerah dan pendapatan nasional
karena pada awalnya bisnis retail menjadi bisnis yang mempunyai persaingan
ketat.
Berikut
data pendapatan Minimarket,Supermarket dan Hypermarket :
Minimarket
:
Produk
dijual
|
Kebutuhan rumahtangga, makanan dan termasuk
kebutuhan harian.
|
Jumlah
Produk
|
< 5000
item
|
Potensi
Penjualan
|
Maks. 200 juta
|
Supermarket :
Produk
Dijual
|
kebutuhan rumahtangga, makanan dan termasuk
kebutuhan harian.
|
Jumlah
Produk
|
5000-25000
item
|
Potensi
penjualan
|
200 juta – 10 Milyar
|
Hypermart :
Produk
Dijual
|
kebutuhan rumahtangga, makanan dan termasuk
kebutuhan harian, textile, fashion, furniture, dll.
|
|
|
Jumlah
Produk
|
>25000
item
|
Potensi
penjualan
|
>
10 milliar
|
Oleh karena itu, bisnis
retail sangatlah berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional.
Karena penghasilan dari suatu bisnis retail, terlebih bisnis retail modern
dapat membantu pendapatan jumlah per-kapita pada suatu daerah tertentu.
Pendapatan per kapita adalah besarnya pendapatan rata-rata penduduk di suatu
negara.Pendapatan per kapita didapatkan dari hasil pembagian pendapatan nasional suatu negara dengan jumlah
penduduk negara tersebut.Pendapatan per kapita juga merefleksikan PDB per kapita.Pendapatan per kapita
sering digunakan sebagai tolok ukur kemakmuran dan tingkat pembangunan
sebuah negara; semakin besar pendapatan per kapitanya, semakin makmur
negara tersebut.
Meningkatnya jumlah
pendapatan perkapita itu dapat membantu suatu daerah untuk membangun kualitas
SDM yang terdapat di sana. Serta beberapa persen pendapatan bisnis retail
tersebut dapat disalurkan ke pendapatan nasional.
Pada contohnya Giant hypermart didaerah
Madiun,Jawa Timur. Di jawa timur, lebih
dari 16% hasil dari penjualan pada bisnis retail disumbangkan untuk pendapatan
nasional. Padahal Jwa Timur bukan kota besar dan jumlah bisnis retail di sana
tidaklah begitu banyak. Bayangkan berapa banyak hasil yang dihasilkan oleh kota
besar seperti Jakarta untuk disumbangkan ke dalam pendapatan nasional. Bahkan
sekarang banyak bisnis retail asing yang menanam saham di Indonesia. Maraknya
bisnis retail ini di Indonesia dapat membantu pertumbuhan ekonomi di daerah
maupun nasional.
Dalam periode enam tahun
terakhir, dari tahun 2007–2012, jumlah gerai ritel modern di Indonesia
mengalami pertumbuhan rata-rata 17,57% per tahun. Pada tahun 2007, jumlah usaha
ritel di Indonesia masih sebanyak 10.365 gerai, kemudian pada tahun 2011 mencapai
18.152 gerai tersebar di hampir seluruh kota
di Indonesia. Pertumbuhan jumlah gerai tersebut tentu saja diikuti
dengan pertumbuhan penjualan.
Untuk penyebaran toko,
paling banyak di Pulau Jawa dengan 57 persen, dan Sumatera dengan 22 persen,
sisanya 21 persen ada di pulau lain. Bisnis ritel lebih cepat tumbuh di
pinggiran kota, karena banyaknya pemukiman di lokasi tersebut. Daerah inilah
yang menjadi target dari ritel modern jenis minimarket.
Menurut Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia
(Aprindo), pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia antara 10%–15% per
tahun.Penjualan ritel pada tahun 2006 masih sebesar Rp49 triliun, dan melesat
hingga mencapai Rp120 triliun pada tahun 2011. Sedangkan pada tahun 2012,
pertumbuhan ritel diperkirakan masih sama, yaitu 10%–15%, atau mencapai Rp138
triliun. Jumlah pendapatan terbesar merupakan kontribusi dari hipermarket,
kemudian disusul oleh minimarket dan supermarket
Jadi, pengaruh bisnis retail terhadap pendapatan
daerah dan pendapatan nasional sangatlah besar.
II. Pengaruh bisnis Retail terhadap
perkembangan konsumen.
Salah satu hal yang
berpengaruh terhadap perkembangan komsumen ialah bagaimana mereka memutuskan
untuk mulai berbelanja diempat tersebut. Berikut faktor-faktornya :
· Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Belanja
Keputusan
belanja dipengaruhi oleh kepercayaan, sikap dan nilai-nilai pelanggan, serta
berbagai faktor dalam lingkungan sosial pelanggan (Christina Whidya Utami,
2006). Proses keputusan memilih barang atau jasa dipengaruhi oleh faktor
lingkungan dan faktor pribadi di dalam diri seseorang.
- Faktor External
Faktor external yang memengaruhi keputusan belanja antara lain:
· Keluarga
Banyak
keputusan belanja dibuat untuk produk yang dikonsumsi oleh keluarga secara
keseluruhan.Ritel harus memahami bagaimana suatu keluarga membuat keputusan
belanja dan bagaimana anggota keluarga lainnya memengaruhi keputusan ini.
· Kelompok yang dijadikan acuan
Kelompok
yang dijadikan acuan satu atau lebih orang-orang yang digunakan seseorang
sebagai dasar perbandingan untuk kepercayaan, perasaan, dan perilaku.
· Budaya
Budaya
adalah faktor yang mendasar dalam pembentukan norma-norma yang dimiliki
seseorang yang kemudian membentuk atau mendorong keinginan dan perilakunya
menjadi seorang konsumen.Budaya dalam hal ini meliputi hal-hal yang dapat
dipelajari dari keluarga, tetangga, teman, guru maupun tokoh masyarakat.
- Faktor Internal
Faktor pribadi atau internal di dalam diri seseorang yang
memengaruhi keputusan belanja antara lain:
· Aspek pribadi
Seorang
pelanggan akan mempunyai perbedaan dengan pelanggan yang lain karena
faktor-faktor pribadi yang berbeda misalnya, tahapan usia, kondisi keuangan,
gaya hidup, kepribadian, dan konsep diri.
· Aspek psikologis
Faktor
psikologi yang memengaruhi seseorang dalam tindakan membeli suatu barang atau
jasa didasarkan pada motivasi, persepsi, kepercayaan, dan perilaku serta proses
belajar yang dilalui konsumen.
Bisnis Ritel secara umum
adalah kegiatan usaha menjual aneka barang atau jasa untuk konsumsi langsung
atau tidak langsung. Dalam matarantai perdagangan bisnis ritel merupakan bagian
terakhir dari proses distribusi suatu barang atau jasa dan bersentuhan langsung
dengan konsumen.
Bisnis Ritel di
Indonesia sebenarnya terbagi menjadi dua, yaitu Ritel Tradisional dan Ritel
Modern.Namun seiring berjalannya waktu, ritel tradisional banyak ditinggalkan
oleh para konsumen.Sehingga peningkatan bisnis ritel modern di Indonesia
melonjak tajam.
Banyak perbedaan yang
dihadirkan bisnis rital tradisional maupun bisnis ritail modern. Sehingga kini
di kabupaten atau kota bahkan desa di Indonesia, “bisnis retail” terlebih
bisnis ritel modern mulai banyak dilirik kalangan pengusaha, sebab memiliki
pengaruh positif terhadap jumlah lapangan pekerjaan dan keuntungannya yang
menjanjikan.
Dalam 6 tahun terakhir,
perkembangan ketiga format modern market di atas sangatlah tinggi.konsepnya
yang modern, adanya sentuhan teknologi dan mampu memenuhi perkembangan gaya
hidup konsumen telah memberikan nilai lebih dibandingkan dengan market
tradisional. Selain itu atmosfer belanja yang lebih bersih dan nyaman, semakin
menarik konsumen dan dapat menciptakan budaya baru dalam berbelanja.Munculnya konsep ritel baru seperti hipermarket,
supermarket, dan minimarket, yang termasuk ke dalam jenis ritel modern (pasar
modern) merupakan peluang pasar baru yang dinilai cukup potensial oleh para
pebisnis ritel, namun dilain sisi dapat mengancam keberadaan pasar tradisional
yang belum dapat bersaing dengan pasar modern terutama dalam hal manajemen
usaha dan permodalan.